Friday, April 10, 2009

Kalo Emang Ngga Mau Kenapa Dipilih?

Saya lagi sering denger temen-temen saya nanya "Diambil ga tha UI nya?"

Satu yang saya pikirin pas jawab pertanyaan mereka : bingung.

Kenapa bingung?

Soalnya cukup jelas, kan. Saya ambil jurusan Sastra Indonesia di Universitas Indonesia karena saya pengen. Jadi kalo keterima, ya saya ambil laaah.

Pengumuman UI tanggal 4 April 2009, tes UGM besoknya di Jakarta.

Tas, uang, cemilan,baju, alat tulis, udah saya siapin buat tes UGM besoknya. Tapi karena saya keterima UI, saya langsung ngebatalin kepergian saya ke Jakarta.

Dan ngga kalah banyak yang nanya "Ihhh,knp ga jd tes UGM nya? Kan sayaaang.Udah bayar uang pndaftaran,udah blablabla"

Tau ngga, kalo UGM udah ngeblacklist kota Bandung?

Kenapa?

Karena terlalu sering dan terlalu banyak siswa SMA di Bandung yang keterima UGM (lewat jalur apapun) dan ngga ngambil.

Kenapa ga diambil?
Karena ternyata keterima di ITB,
karena ternyata cuma keterima di pilihan kedua,
karena ternyata ga boleh di luar kota,
karena ternyata blablabla.

Dan kebanyakan dari mereka bangga.
"Saya keterima di situ di sini di sana,tp ga diambil.Hehehe"

Kalo swasta mah,saya ga mau nyalahin banyak orang yang ngejadiin tes-tes itu buat jadi cadangan doang.
Tapi UI , ITB, UGM, UNDIP, dll. aduuuh. di luar sana, di seluruh Indonesia, banyaaaaak banget yang rela mengorbankan apapun demi jadi mahasiswa PTN-PTN tadi.
Tapi segelintir orang dengan santainya menjadikan SIMAK UI, UM UGM, USM ITB, sebagai ajang TRY OUT belaka.
Memilih jurusan yang mereka tau ga akan mereka ambil walaupun keterima.
Mereka merasa sayang kalau cuma memilih 1 jurusan.

Banyak teman saya yang menangis.
Menangis karena perjuangan mereka berbuah kegagalan.
Padahal mungkin, kalau orang-orang di luar sana ngga hobi TRY OUT sana sini, teman-teman saya yang menangis tadi akan tertawa sekarang.

Indonesian People Move Too Slooww

di suatu Minggu, sepulang mengikuti Try Out UM-UGM di Ganesha Operation, saya dan Tyas memutuskan untuk belajar bareng di Ngopi Doeloe jalan Purnawarman.

Nah, di perjalanan saya mengalami sebuah kejadian yang jadi pikiran saya sampai saat ini.

Turun dari angkot Dago di perempatan, saya dan Tyas jalan kaki di pinggir jalan Merdeka.

Ada dua orang bule yang sama-sama jalan di sana.

Sialnya, saya dan Tyas tepat di depan mereka.

Baru jalan kurang dari 5meter,mereka udah nyusul saya dan Tyas. Sambil nyalip, kedengeran mereka bilang,

"Indonesian people move too slow"

dengan logat British yang cukup kental.

Saya dan Tyas cuma bisa melongo karena merasa kalo jalan kita ga lambat-lambat amat ah.

Dulu waktu SMP, saya biasa jalan cepet, tapi temen-temen saya sering ngejek saya dikejar setan dsb. Saya jadi kebiasa jalan lambat, dan sekarang-sekarang, ukuran segitu udah dianggap normal karena hampir semua orang baik di sekolah maupun di jalanan, jalan dengan kecepatan segitu.

Trus Tyas cerita,waktu dia jalan-jalan ke ITB, hampir semua orang jalan dengan kecepatan jalan bule tadi.

Wah, ko bisa gitu ya?

Saya baru tadi mengambil kesimpulan : kecepatan mobilitas seseorang dari suatu ke tempat lain mungkin menggambarkan kecepatan mobilitas di segala bidang kehidupannya.

kenapa Indonesia lama majunya? karena penduduknya jalan lambat kayanya.

Yes, I Do Love To Be A Part of Minority !

Terimakasih Tuhan, saya diterima di Universitas Indonesia. Universitas yang memang benar-benar saya kagumi sejak lama. Universitas papan atas di Indonesia, bahkan Asia. Universitas yang banyak melahirkan lulusan-lulusan hebat !
Universitas yang blablabla dengan segala keindahannya .

Terimakasih Tuhan. Saya diterima di jurusan Sastra Indonesia.
Jurusan yang menjadi minat saya.
Bidang yang akan saya pelajari dengan hati yang ringan.
Bidang yang saya yakin adalah yang terbaik untuk saya, karena ini pilihan saya, dan Tuhan memberi saya jalan untuk diterima di sini.

Kalau masih ada yang bertanya "Kenapa Sastra Indonesia?" lagi, saya sarankan untuk membaca notes saya yang berjudul "Polemik Pemilihan Jurusan Kuliah" . Tapi tenang saja , jangan malu bertanya langsung, karena saya terbiasa dan sangat suka menjadi minoritas.

Kalau sekarang saya menghadapi pertanyaan-pertanyaan mengenai minat saya di Sastra Indonesia, saya jadi ingat masa-masa saya memilih program IPS saat naik ke kelas XI di SMAN 5 Bandung.

Hampir semua orang bertanya, hampir semua saudara bertanya. Mungkin meremehkan tepatnya. Tapi saya PASTI membuktikan kalau cibiran mereka hanya akan membuat mereka semakin kagum melihat saya kelak.

Untungnya, kedua orang tua saya yang moderat (hmm~ love them !) selalu mendukung hal-hal positif yang saya sukai.

Sekarang saya diterima di Sastra Indonesia UI. Padahal hanya kurang dari DUA PULUH LIMA orang yang diterima dari pendaftar seluruh Indonesia yang entah berapa ratus.

Saya bangga.
Saya senang.
Saya bahagia.
Menjadi bagian dari kaum minoritas yang membanggakan.

Saya memang selalu suka menjawab pertanyaan-pertanyaan yang meluncur dari banyak orang mengenai pilihan hidup saya.
Dan pertanyaan-pertanyaan itu akan semakin memompa saya untuk membuktikan betapa tepatnya pilihan saya.

*Selamat juga untuk teman-teman seperjuangan lain yang diterima di Universitas Indonesia. Ayo kita menjadi succesful minority kelak.

Saturday, February 28, 2009

Polemik Pemilihan Jurusan Kuliah

Prioritas saya :

1. Fakultas EKONOMI jurusan MANAJEMEN.

Kenapa?

Karena saya suka manajemen, suka mengatur sesuatu, suka menyusun segala sesuatu tepat pada tempatnya, senang melihat segala sesuatu tepat waktu.
Tertarik dengan apa yang mereka sebut seni memengaruhi orang lain, tertarik dengan apa yang mereka sebut dengan seni memimpin itu.
Tergiur dengan lapangan kerja yang luas dan menjanjikan.
Juga keinginan saya untuk tak lepas dari ilmu ekonomi yang sangat menarik itu.

2. Fakultas ILMU BAHASA. Jurusan SASTRA INDONESIA.

Kenapa?

Dari saya masih kecil, sekitar 9tahun, saya suka menulis. Entah itu cerpen, buku harian, puisi, atau apapun. Saya suka menulis. Menyenangkan saat melihat goresan pena di atas kertas. Saya murid favorit guru bahasa Indonesia di SD saya. Saya disertakan dalam lomba sinopsis se-Jabar dan menang. Saya suka membaca majalah (mulai dari Bocil, Bobo, Fantasi, Kawanku, kemudian Gadis) . Saya suka kesukaan saya akan bahasa. Saya suka mengirimkan cerpen ke majalah-majalah yang saya baca. Tapi baru satu kali dimuat, dan berkali-kali dikembalikan, ntah ke mana semangat saya itu pergi.
Saya berhenti menulis.

Kemudian saya duduk di bangku kelas 3 SMA. Saya mendapat guru mata pelajaran bahasa Indonesia yang menginspirasikan bukan hanya saya tapi banyak siswa di sekolah saya untuk mencintai lagi bahasa ibu kami, bahasa Indonesia.

Nah. Bagian manakah polemiknya?

Data Passing Grade Jurusan UI ( menurut Ganesha Operation )

MANAJEMEN = 46,5%
SASTRA INDONESIA = 27,5%

Kebanyakan orang yang bertanya mengenai jurusan yang akan saya ambil nanti,mendengar saya menjawab "Manajemen" akan menjawab "Ohh" atau "goodluck ya" .

Tapi setelah mendengar "Sastra Indonesia" , kenapa ekspresi mereka harus "Hah? Nanaonan?" atau "Baleg?" atau "Naha Indonesia?" atau "Kerjanya jadi apa emang ntar?"

Jurusan yang ideal, di mata kebanyakan pelajar kelas 3 SMA saat ini, adalah jurusan di mana mereka akan mendapatkan pekerjaan dengan penghasilan yang berlimpah.
Atau banyak juga yang mengincar GRADE yang tinggi, tanpa memikirkan, apa mereka benar-benar menginginkannya.

Bahasa Indonesia, seperti air yang mudah disia-siakan, padahal sangat berharga. Bahasa yang hanya dimiliki oleh bangsa kita. Bahasa yang mengandung jutaan kata indah. Bahasa yang tanpa kita sadari akan sangat kita rindukan saat kita jauh dari negeri ini.

Dan kalau saya memang suka bahasa, bahasa Indonesia, kenapa saya harus pusing memikirkan grade yang kurang tinggi dibandingkan dengan jurusan-jurusan lain itu?

Tahu tidak, bahwa segala sesuatu yang dikerjakan dengan hati yang bahagia, seberat apapun, akan membawa keringanan dan hasil yang baik. Termasuk pekerjaan saya nanti !

Guru; dosen; editor koran, majalah, televisi; apapun. Asal saya senang dengan apa yang saya lakukan, saya akan tetap menemukan jalan yang tepat kelak.

Tuesday, January 20, 2009

sahabat?

Apakah kalian sahabat?
Mengapa kalian semua menceritakan kisah mereka?
Kemesraan mereka?
Kebahagiaan mereka?

Kalian tau saya masih sangat menyayangi dia,
saya tau kalian tau !

Kalian tau bila cerita yang kalian ucapkan itu akan sangat menyakiti saya,
saya tau kalian tau!

Tapi mengapa kalian menceritakan semua itu seakan saya tidak sakit?

Seakan saya ikut tertawa melihat kebahagiaan itu,
seakan saya ingin tahu saja!

Sakit, seakan kalian tidak memahami saya.
Atau kalian memang tidak paham, sahabat?

The same tear, the same scar

Tuhan, luka itu masih menganga.
Sakitnya masih sangat terasa.
Sudah hampir setahun, tapi kenapa rasanya belum selama itu?

Tangisnya masih pedih, nafasnya masih sesak, langkahnya masih oleng, hatinya masih luka.

Tuhan,tolong ringankan beban hamba-Mu ini.
Biarkan aku melupakannya Tuhan,
biarkan aku tertawa melihat kebahagiaannya.
Biarkan luka ini sembuh, Tuhan.
Biarkan..
Aku mohon..

Ampunilah kesalahan masa laluku padanya.
Apa harus sesakit ini hukuman-Mu?
Karena tawa ini belum pernah selepas dahulu,
senyum ini belum pernah setulus dahulu,
hati ini belum pernah sebahagia dahulu.

Maafkan aku, Sagitarius. aku harus begitu mencintaimu.. Padahal cinta ini tidak membuat siapapun bahagia..

Cinta adalah anugerah? Tapi Tuhan, ambil anugerah ini..
Aku mohon..
Sakit..
Masih sangat menyakitkan..

Friday, January 9, 2009

Masuk Sekolah 6.30 Aja Kok Repot?

Sampe bosen deh denger radio, nonton berita, baca koran, semuanya ngebahas peraturan baru pemda DKI yang mengubah jam masuk sekolah di Jakarta dari 07.00 menjadi 06.30.

Seperti biasa,kebijakan yang dilakukan pemerintah pasti mengundang kontroversi. Tapi baru kali ini saya setuju sama pemerintah.

Konon katanya, cenah mah, pelajar teh nyumbang 16% kemacetan di kota Jakarta. Yaa, jumlah yang emang ga terlalu besar sih. Tapi kata pepatah juga "sedikit-sedikit, lama-lama menjadi bukit"

Selama saya mengikuti perkembangan berita, ini nih berbagai komentar yang muncul dari masyarakat.

1. "Mana? Jakarta tetep macet juga !"

komentar saya :
Ya sebenernya wajar aja kalo hasil dari kebijakan ini ngga akan langsung JEDER keliatan. 16% gitu looh. Dan ga semua jalan di jakarta tuh menuju sekolah kan?

2. "Anak saya jadi ngantuk, cape, ga konsentrasi belajar, gampang sakit, blablabla"

komentar saya :
Astagaa. Lebayna euweuh 2 ! Bangun setengah jam lebih cepet doang ngaruh segitu parahnya apa? Inget dulu saya PLS, mesti nyampe 5 jam 6 kurang 15. Bangun jam4. Ah, cuma masalah jam weker aja itu mah ! Lagian, bangun pagi tuh sehat tau. Kalo jam pulang dibikin jadi sore banget, baru wajar tuh ampe sakit.

3. "Kenapa pemerintah bukannya bikin sarana transportasi yang memadai dari pada bikin peraturan yang ga jelas kaya gini?"

komentar saya : aduh, udah ada busway yang keren itu kan? Trus sekarang monorel dan subway lagi dalam tahap pembuatan. Yang katanya sih jadi taun 2015. Yaaah, ga ada salahnya kan kreatif dikit sambil nunggu taun 2015.

Yaaa, intinya mah. Berpikir positif lah sedikit-sedikit mah ke pemerintah. Haha. Negara kita tuh ibarat kanker mah udah stadium 8. Lama banget kalo mau sembuh. Kalo diliat-liat, udah banyak lho kemajuan yang dibikin Pak SBY 5tahun ini . ( Jadi kampanye deh gue. Hahaha )

Ya gitu deh,
cuma pengen nulis berita yang lagi anget-anget tai ayam.
Hehehe.